Selasa, 14 Mei 2013

Menggeser Titik Tumpu Pada Tuas Aktivitas



Kalau membuka kamus, tuas atau pengungkit adalah salah satu pesawat sederhana yang digunakan untuk mengubah efek atau hasil dari suatu gaya. Hal ini dimungkinkan terjadi dengan adanya sebuah batang ungkit dengan titik tumpu (fulcrum), titik gaya (force), dan titik beban (load) yang divariasikan letaknya.
Ada saatnya kita merasa sangat jenuh dengan aktivitas yang kita kerjakan. Semakin lama, dirasakan bahwa beban yang harus diangkat semakin besar, padahal energi yang dimiliki tidak bertambah secara signifikan. Ibarat tuas atau pengungkit

Kamis, 18 April 2013

Sudah Seharusnya Makna Itu Diciptakan

Beliau adalah seorang Insinyur perminyakan yang bekerja di salah satu perusahaan minyak swasta, Chevron (dulunya kita kenal dengan Caltex). Beberapa tahun silam beliau ditugaskan untuk bekerja di Amerika Serikat. Sudah menjadi hal yang mafhum bahwa karyawan yang bekerja di perusahaan itu akan dirotasi dengan lingkup yang luas. Tidak hanya nasional, akan tetapi rotasi dengan panjang sumbu yang melintasi batas negara. Insinyur perminyakan dari ITB ini membawa serta istri dan anaknya yang masih berusia Sekolah Dasar. Mau tidak mau, anaknya pun harus meneruskan sekolah di negeri ini karena waktu empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Beliau berfikir bahwa akan ada banyak kesempatan yang hilang untuk anaknya apabila selama kurun waktu itu tidak melanjutkan sekolah.

Namun setiap anak memiliki tingkat adaptasi yang berbeda-beda

Senin, 14 Januari 2013

Bertahan di Kurva Efek Pembelajaran



Dilihat dari prestasi akademis, tidak ada yang istimewa darinya. Kuliah dijalani sebagaimana mahasiswa pada umumnya. Kehidupannya selama kuliah tidak jauh dari kos-kosan, uang saku yang minim serta rutinitas perkuliahan. Kadangkala dia terlihat sangat bersemangat dengan kuliahnya dan di saat yang lain dia  tenggelam dalam aktivitas lain di luar kampus. Pun kelulusan dia capai dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang pas-pasan  dan waktu yang cukup lama – 5 tahun lebih.
Begitu lulus, dia harus berjuang memecahkan tembok penghalang yang begitu besar untuk memasuki dunia kerja.
“Setidaknya, sudah empat puluh perusahaan saya daftar dalam kurun waktu satu tahun”, ceritanya.
“Tapi satu pun nggak ada yang nyantol”, lanjutnya sambil terbahak.

Selasa, 08 Januari 2013

Menciptakan Kemenangan Sendiri


“Yang kalem saja, tidak semua kompetisi harus kita menangkan”, demikian kata sahabat saya ketika saya menceritakan perihal ketidaklolosan saya dalam sebuah tes masuk kerja. Persiapan untuk menghadapi tes itu sudah saya lakukan jauh sebelum hari – H pelaksanaan tes, baik itu persiapan fisik maupun akademik. Sebulan lebih saya harus menahan keinginan menyantap aneka gorengan kegemaran  hanya karena takut naiknya kadar kolesterol dan hampir setiap ba’da shubuh saya sempatkan untuk lari pagi.
Akan tetapi kondisi mental terlewat saya persiapkan

Jumat, 28 Desember 2012

Paksakan Saja Masuk Kondisi Itu


Malam yang terasa lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya.
Jumat malam. Dengan terburu-buru saya lajukan  motor menuju kampus. Tidak seperti biasanya, sore itu lalu lintas kendaraan begitu padat sehingga terasa sedikit kemacetan di sepanjang Jalan Wates menuju Gamping. Mungkin karena memang akhir pekan sekaligus hari kerja terakhir di penghujung tahun 2012, banyak yang memutuskan untuk menikmati liburan akhir tahun di Jogja. Selain itu lalu-lintas terasa semakin semrawut dengan rintik hujan yang seharian mengguyur kota Jogja.   Alhasil, terlambatlah saya mengikuti ujian hari ketiga semester ini. Baju yang basah, perasaan yang grogi bercampur kurangnya persiapan materi membuat saya cukup lama terbengong memandangi lembaran soal di atas meja sambil mencoba mengorek kembali memori yang sempat saya simpan, tetapi nihil hasilnya. Di menit terakhir saya kumpulkan lembar jawaban yang tertoreh beberapa kalimat sambil berharap ada sebentuk upah dari torehan  tadi.
Ya, hanya sekedar berharap ada upah menulis yang saya dapatkan.

Jumat, 21 Desember 2012

Membangun Fondasi atau Memilih Jalan Lain?



“Posisiku kan sangat tidak strategis”, keluhnya,”Cuman bisa menikmati dan terdzolimi”.
Demikian sepenggal kutipan BBM dari seorang sahabat yang bekerja di salah satu Kementerian. Saya tidak tahu persis posisi di tempat kerjanya. Sepanjang yang saya tahu, dia bukan berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) meskipun rutinitas pekerjaannya dilakukan di Kementerian.
“Sepertinya kejenuhan ini sudah sampai titik nadir”, lanjutnya.