Minggu, 18 Desember 2011

Sumber Kecukupan Itu


Seminggu berselang setelah kuliah umum Prof. Djamaludin Ancok di Wisma Magister Manajemen UGM. Kuliah yang sangat menarik dan penuh canda setelah hampir dua tahun tidak merasakan nuansa akademis kampus ini.
“Nanti-nanti saja lah mencatatnya. Toh slide presentasinya juga bisa diminta nanti”, pikir saya saat itu. Tapi pada kenyataannya, hanya seminggu berselang tak banyak yang saya ingat dari apa yang disampaikan beliau. Setelah saya baca kembali, slide presentasi itu pun terasa hambar

Minggu, 11 Desember 2011

Arti Sekotak Nasi

Kota Jogja bukanlah kota yang baru saya singgahi. Hampir lima tahun saya kuliah di sini dan saat ini  saya begitu rindu dengan suguhan yang dihidangkan oleh kota ini. Alhamdulillah, setelah hampir dua tahun tidak menghirup aroma keramahan kota inidan sempat mencicipi kota  Karawang, Kota kecil Probolinggo dan Jakarta – saat ini saya bisa menghirup  kembali aroma itu, entah untuk berapa lama.
Seminggu di kota ini – berbagai hal baru yang sangat berbeda dengan dua tahun lalu membuat saya merasa asing. Kemacetan di perempatan Tugu Jogja,  ratusan mobil yang bersliweran di sekeliling kampus UGM dan keluar masuk kampus yang “berbayar” menjadi hal yang menurut saya “lain”. Entahlah, hanya belum terbiasa ataukah Jogja memang benar-benar sudah berbeda. Barangkali memang harus menelusur lebih jauh dan menggali lebih dalam untuk bisa mencicipi suguhan khas yang sangat saya rindu itu.
                                                                        ***
“Bu, soto nggih kaliyan teh anget[1]”
Pagi itu saya sangat ingin sarapan soto setelah semalam demam menggigil.

Minggu, 27 November 2011

Selembut Sederhana

Termenung saya perhatikan beliau dari belakang. Terduduk di samping tiang penyangga Masjid Gede Kauman tanpa satu pengawalan pun. Kesederhanaan nampak dari kemeja batik lengan pendek dan celana panjang  yang beliau kenakan. Pakaian dengan motif  yang –menurut pengamatan saya – tanpa bumbu “priyayi pengageng”.
***
Ahad Pagi Yang Terik
Cukup tergesa saya parkirkan motor di halaman masjid yang masih berada dalam kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,

Minggu, 30 Oktober 2011

Menikmati Itu Mensyukuri


Malamnya saya sempat berdiskusi panjang dengan seorang sahabat saya yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama dan punya pengalaman yang serupa pula, yaitu pernah bekerja di tempat yang lain sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah di perusahaan yang sekarang. Sepertinya sudah sering kami membahas hal ini dan sudah berkali-kali pula kami berdebat. Apalagi kalau bukan tentang perbandingan gaji antar perusahaan.
“Di Pelindo itu gajinya besar lho San dibandingkan PLN”, demikian katanya, “Bonusnya juga cukup besar”, lanjutnya.
“Temanku yang kerja di sana sudah ditawari juga kuliah di Belanda”
“Ah, nggak lah kalau pindah ke Pelindo”, tukas saya, “Mendingan kalau mau pindah

Kamis, 20 Oktober 2011

Bekerja Bekerja Bekerja

“Orang yang bekerja akan memberikan inspirasi”, demikian dikatakan oleh Dahlan Iskan (mantan CEO PLN), “sedangkan orang yang tidur hanya bisa bermimpi saja”.
Bincang direksi tanggal 29 September 2011 mungkin merupakan bincang direksi terakhir sebelum beliau naik menggantikan Mustafa Abubakar sebagai Menteri BUMN. Pertemuan sebelumnya di Bali menelorkan sebuah tagline baru untuk PLN yang sebelumnya adalah Electricity for A Better Life berubah menjadi Bekerja Bekerja Bekerja. Dalam forum itu dikupas lugas maksud tagline tersebut. Sebenarnya lengkapnya adalah “Jauhi Politik, Bekerja Bekerja Bekerja”. Akan tetapi statement sebelum koma dihapus karena dikhawatirkan justru menimbulkan kerentanan persepsi.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang bekerja, karena masalah tidak akan selesai hanya dengan bermimpi saja”, lanjut beliau.

Jumat, 30 September 2011

Keindahan Yang Perlahan


Jumat pagi yang telat. Buru-buru kumasukkan sepatu dalam kantong plastik seraya berlari meninggalkan kamar kos hanya dengan bersandal jepit. “Sudah nggak sempat”, pikir saya.
Sayup terdengar suara khas bajaj mendekat dan reflek kulambaikan tanganku agar bajaj itu berhenti. Dalam sekejap kulemparkan tas di jok belakang bajaj samping tempat dudukku.
“Dekat hotel Darmawangsa Pak”, spontan sedikit berteriak agar bajaj segera melaju. Kulirik arloji di pergelanganku. Jam 06.50, “Semoga nggak telat”, batinku.
Sesaat kami terdiam. Dari belakang kuperhatikan bapak penarik bajaj itu. Sepertinya wajahnya tak asing bagiku.
Ya, tiap kami bertemu meskipun sama sekali belum pernah saling sapa. Naik bajaj beliau pun baru kali ini karena  lebih sering saya jalan kaki menuju tempat kerja.
Nggak ada yang istimewa dengan bapak itu. Sama dengan orang kebanyakan. Hanya saja ada satu kebiasaannya yang menarik perhatianku. Tiap pagi bapak itu selalu sholat subuh di masjid dekat kos dan selepas itu dia mengambil handuk yang disampirkan