Minggu, 27 November 2011

Selembut Sederhana

Termenung saya perhatikan beliau dari belakang. Terduduk di samping tiang penyangga Masjid Gede Kauman tanpa satu pengawalan pun. Kesederhanaan nampak dari kemeja batik lengan pendek dan celana panjang  yang beliau kenakan. Pakaian dengan motif  yang –menurut pengamatan saya – tanpa bumbu “priyayi pengageng”.
***
Ahad Pagi Yang Terik
Cukup tergesa saya parkirkan motor di halaman masjid yang masih berada dalam kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,

Minggu, 30 Oktober 2011

Menikmati Itu Mensyukuri


Malamnya saya sempat berdiskusi panjang dengan seorang sahabat saya yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama dan punya pengalaman yang serupa pula, yaitu pernah bekerja di tempat yang lain sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah di perusahaan yang sekarang. Sepertinya sudah sering kami membahas hal ini dan sudah berkali-kali pula kami berdebat. Apalagi kalau bukan tentang perbandingan gaji antar perusahaan.
“Di Pelindo itu gajinya besar lho San dibandingkan PLN”, demikian katanya, “Bonusnya juga cukup besar”, lanjutnya.
“Temanku yang kerja di sana sudah ditawari juga kuliah di Belanda”
“Ah, nggak lah kalau pindah ke Pelindo”, tukas saya, “Mendingan kalau mau pindah

Kamis, 20 Oktober 2011

Bekerja Bekerja Bekerja

“Orang yang bekerja akan memberikan inspirasi”, demikian dikatakan oleh Dahlan Iskan (mantan CEO PLN), “sedangkan orang yang tidur hanya bisa bermimpi saja”.
Bincang direksi tanggal 29 September 2011 mungkin merupakan bincang direksi terakhir sebelum beliau naik menggantikan Mustafa Abubakar sebagai Menteri BUMN. Pertemuan sebelumnya di Bali menelorkan sebuah tagline baru untuk PLN yang sebelumnya adalah Electricity for A Better Life berubah menjadi Bekerja Bekerja Bekerja. Dalam forum itu dikupas lugas maksud tagline tersebut. Sebenarnya lengkapnya adalah “Jauhi Politik, Bekerja Bekerja Bekerja”. Akan tetapi statement sebelum koma dihapus karena dikhawatirkan justru menimbulkan kerentanan persepsi.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang bekerja, karena masalah tidak akan selesai hanya dengan bermimpi saja”, lanjut beliau.

Jumat, 30 September 2011

Keindahan Yang Perlahan


Jumat pagi yang telat. Buru-buru kumasukkan sepatu dalam kantong plastik seraya berlari meninggalkan kamar kos hanya dengan bersandal jepit. “Sudah nggak sempat”, pikir saya.
Sayup terdengar suara khas bajaj mendekat dan reflek kulambaikan tanganku agar bajaj itu berhenti. Dalam sekejap kulemparkan tas di jok belakang bajaj samping tempat dudukku.
“Dekat hotel Darmawangsa Pak”, spontan sedikit berteriak agar bajaj segera melaju. Kulirik arloji di pergelanganku. Jam 06.50, “Semoga nggak telat”, batinku.
Sesaat kami terdiam. Dari belakang kuperhatikan bapak penarik bajaj itu. Sepertinya wajahnya tak asing bagiku.
Ya, tiap kami bertemu meskipun sama sekali belum pernah saling sapa. Naik bajaj beliau pun baru kali ini karena  lebih sering saya jalan kaki menuju tempat kerja.
Nggak ada yang istimewa dengan bapak itu. Sama dengan orang kebanyakan. Hanya saja ada satu kebiasaannya yang menarik perhatianku. Tiap pagi bapak itu selalu sholat subuh di masjid dekat kos dan selepas itu dia mengambil handuk yang disampirkan

Senin, 27 Juni 2011

Air itu Kakaknya


Malam itu saya  pasang alarm di handphone lebih awal. Ya. Jam tiga dini hari saya harus bangun. Ada sedikit kepentingan kantor yang musti saya hadiri jam delapan pagi. Saya perkirakan perjalanan ke Indramayu akan menghabiskan waktu tiga jam, sedangkan menurut info yang saya dapatkan, bus pertama kali ke Indramayu jam setengah lima pagi.  Berarti saya harus berangkat dari kos paling lambat jam empat, itupun kalau dapat kendaraan langsung ke Lebak Bulus. Artinya ada sekitar waktu satu jam untuk beres-beres. Cukuplah.

Senin, 13 Juni 2011

Etoser, Senantiasa Menjadi Cermin

Saya tidak habis berfikir kenapa anak ini diterima di Etos. Jangan-jangan hanya karena satu daerah dengan sebagian besar panitia seleksinya atau pernah menyandang almamater yang sama kemudian anak ini diloloskan. Sejak awal dia masuk ke asrama ini, saya sama sekali tidak bersimpati. Yang saya lihat darinya hanyalah wajah yang membuat saya kesal, jalan pikiran yang senantiasa berseberangan, penampilan yang kotor, semaunya sendiri dengan kehidupannya.
Sekali lagi menurut saya, “Ah, dia sama sekali nggak memiliki prospek”
Sempat juga saya berfikir, “Kenapa Etos inputnya seperti ini?”