Sabtu, 11 Juni 2011

Semampu Berbagi


Jumat malam, 21.30 WIB.
Alhamdulillah, sampai di Jakarta dengan selamat meskipun untuk sampai kos saya harus menikmati sedikit kemacetan di atas bus DAMRI menuju Blok M. Sebenarnya hati saya masih setengah hati untuk kembali ke kota ini setelah dua hari dimanjakan dengan suasana kecamatan Paiton yang nyaman. Apalagi di akhir pekan yang biasanya saya gunakan untuk sedikit memanjakan diri dengan bermalas-malasan. Dengan sisa tenaga dan niat yang seadanya datang juga saya dalam training itu.
Sabtu pagi.
Ya. Training basic ESQ yang sudah memiliki jutaan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa Negara tetangga. Di hari pertama ini tak banyak yang bisa saya ceritakan karena tak banyak juga hasil tangkapan ilmu yang berhasil saya jaring di otak saya.

Sabtu, 04 Juni 2011

Berusaha Menikmati Proses

Kalau kata sahabat saya, salah satu cara untuk mensyukuri setiap hal yang terjadi adalah menikmati proses yang sudah terjadi dan sedang terjadi. Atau kata sahabat yang lain, kalau tidak bisa menikmati proses yang sedang terjadi, maka cukuplah menikmati pengiring proses tersebut. Bisa jadi Allah memang sedang menampilkan bahwa seharusnya yang harus dinikmati adalah pengiringnya, yang memaksa kita untuk tersenyum dan mengatakan, “Ternyata dibalik kejadian ini, Allah sangat penyayang ya?”
Seingat saya Ahad tiga pekan yang lalu.
“Permisi, permisi, permisi”, saya susuri tengah-tengah gerbong kereta Senja Utama yang memang sudah penuh sesak.
Celingak-celinguk saya mencoba mencari tempat kosong di gerbong tersebut. Maklum, tiket pun saya dapatkan tanpa tempat duduk.

Sabtu, 28 Mei 2011

Saya Hanya Iri


“Hayo…”, canda saya ketika masuk ke kamarnya,”Kado buat siapa nih. Cantik bener kadonya”, saya amati kotak kecil yang dibungkus dengan warna yang cantik.
“Siapa aja boleh”, sahutnya sambil tertawa.
“Aha, pasti buat ceweknya nih”, telisik saya.
“Yang jelas buat the special one”, sahutnya tertawa sambil memutar-mutar kadonya, memastikan bahwa semuanya telah terbungkus dengan rapi.
“Mau dikasih langsung atau via pos Mas?”,  saya lihat kembali kado biru muda yang masih diputar dengan senyum terkembangnya.
“Pake pos lah”, sahutnya,”Kan jauh”, lanjutnya.

Sabtu, 21 Mei 2011

Digenggam Saja Nak Harapanmu


Bulan Mei. Ya, saya merasakan bahwa emosi saya di bulan ini sangat kacau. Saya tidak tahu, kenapa rutinitas yang saja lakukan hanya berlalu begitu saja dan setelah itu selesai. Memulai aktivitas baru dan setelah itu selesai. Semuanya berjalan dan berlalu. Saya mulai mengingat, peristiwa Selasa dua pekan yang lalu ketika saya sampai di bandara Sukarno-Hatta jam 3.30 dini hari.
“Mas”, mulai sopir taksi setelah hampir dua puluh menit hanya saling diam dan saya masih dalam lamunan saya. ”Sudah hampir sampai terminal tiga”, lanjutnya.
“Oh, iya pak”, sadar saya dengan keterkejutan setelah lamunan saya yang melayang.
“Ini paling pagi Mas. Pake uang yang pas saja ya Mas”, masih dengan gerakan terampilnya mengendalikan mobil di jalanan menikung bandara sambil sesekali memandang kaca spion di atasnya.
“Belum ada kembalian soalnya Mas. Ini Masnya yang pertama naik”, lanjutnya.

Minggu, 08 Mei 2011

Hanya Butuh Meminta Saja

Entah berapa kali saya melihat, dan berpapasan dengan laki-laki itu semenjak kepindahan saya di kota ini. Berkali pagi saya menjumpainya di persimpangan gang masih dengan sarung dan kausnya duduk di atas kursi roda. Sekilas saja, tak ada sapa, tak ada senyum, apalagi salam, dan saya pun masih denganlangkah kaki saya menuju tempat kerja.
Ahad. Biasa, untuk pekerja seperti saya, waktu libur Sabtu-Ahad saya gunakan untuk sedikit melepas lelah -kalau nggak mau dikatakan bermalas-malasan-. Pagi tadi cuaca sepertinya agak kurang mendukung untuk keluar, kadang gerimis, kadang juga reda. Tidak biasanya juga saya rajin menghadiri kajian di masjid. Tapi

Selasa, 12 April 2011

Memilih Warna Pakaian

Seingat saya, ini adalah note pertama saya semenjak saya mulai dipindahtugaskan di Jakarta. Bisa jadi hampir dua bulan saya tidak pernah duduk sejenak untuk merenung dan melamun. Bisa jadi juga dalam dua bulan itu ritme hidup berubah drastis dan baru pelan-pelan bisa dinikmati kembali. Ya, butuh setidaknya dua bulan untuk mencoba menikmati ritme yang baru. Jelas, bukan mengatur ritme, karena bagi saya mengatur ketat ritme hidup, berarti memperlama diri untuk bisa menikmati ritme. Opsi yang saya pilih adalah menikmati ritme yang tercipta di sini dengan melakukan tambalan di sana dan di sini.